Ashoka Indonesia
 

  Jl.Saninten No. 37
  Bandung - 40114
  West Java
  Indonesia
  tel/fax: 62-22-7234095
  email

 
K a s m i a t i
Pengembangan Sosial dan Ekonomi Perempuan Penduduk Asli.
Kasmiati lahir di Tolot-tolot Kawo, Lombok, 20 April 1958. Ketika menyelesaikan sarjana muda pendidikan di Fak. Pendidikan IKIP Mataram tahun 1981, Kasmiati langsung aktif di dunia LSM. Bergabung sebagai Fellow Ashoka tahun 1991 dengan program utama: "Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat di Pulau Lombok Melalui Koperasi Serba Usaha Annisa". Latar sosial dari gagasan dan implementasi program Kasmiati adalah situasi tingkat keterampilan yang rendah sementara angka buta huruf tinggi, meningkatnya jumlah anak-anak terlantar karena tingginya angka perceraian, pendapatan ekonomi rendah dengan akses modal yang sulit sementara rentenir amat berkembang. Dengan latar demikian, Koperasi Annisa memiliki tujuan jangka pendek seperti: peningkatan pendapatan perempuan pedagang kecil (tahun 1991 ditargetkan dari Rp 750,- menjadi Rp 1.500,-), meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam mengembangkan usaha, meningkatkan rasa persaudaraan perempuan melalui berkelompok, serta pengurangan tingkat perempuan buta huruf. Kasmiati tidak hanya memperkuat institusi koperasi secara intern saja, tetapi juga perluasan jaringan. Dari menjadi salah satu pendiri dan kordinator Pusat Koperasi Wanita (Puskowan) NTB, Koperasi Annisa kemudian menjadi anggota Induk Koperasi Wanita (nasional), hingga menjadi salah satu pelaksana program kerja sama dengan Asian Womans Empowerment Project (AWP) Jepang yang dirintis sejak NGO Forum on Woman di Huairo, Cina, 1995. Pendekatan sekaligus metode yang digunakan Kasmiati dalam implementasi programnya adalah metode "pendidikan fungsional/buta huruf" yang kemudian dikomplementerkan dengan metode penyadaran gender. Metode-metode ini diwujudkan melalui program kesehatan dan keluarga berencana serta program peningkatan pendapatan.
:: Yayasan Koperasi ANNISA Jl. Ade Irma Suryani No.54B, Mataram-NTB-83122 Tel: 0370-641965, Fax: 0370-644119 e-mail: annisa@mataram.wasantara.net.id

F l o r e n t i n o   S a r m e n t o
Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan
Lahir di Laclubar, 3 Nopember 1951. Untuk membangun kembali kerapuhan kehidupan sosial masyarakat akibat perang yang terjadi di Timor Timur, Florentino telah mengorganisasikan ratusan kelompok masyarakat swasembada di antara rakyat pedesaan, melalui simpanan, kredit, dan kegiatan perkembangan ekonomi lainnya. Kelompok-kelompok ini dijalankan oleh para petani setempat dengan dibantu organisasinya, ETADEP (Ema Mata Dalam Ba Progressu: dalam bahasa Tetum), yang menyediakan informasi dan pelatihan khusus. Struktur mekanisme swasembada yang diterapkan Florentino mampu membangun rasa percaya diri para petani, hingga mereka mampu belajar dan menjadi ahli dalam hal sistem organisasi dan keuangan. Selain itu, Florentino juga menggunakan kelompok petani lokal untuk menyebarluaskan pengetahuan teknik-teknik pertanian yang relevan dan dapat diandalkan. Ia juga melatih para pemimpin yang diharapkan akan meneruskan programnya dengan mendorong mereka untuk menciptakan kelompok swasembada mereka sendiri. Pada proses pendampingan bersama masyarakat, ETADEP banyak mengalami kendala baik dari luar maupun dari masyarakat sendiri. Yang paling menghambat adalah kondisi psikologis rakyat akibat tekanan dan batasan ruang gerak oleh aparat keamanan yang selalu mencurigai kegiatan massa.
:: CRS Jl. Sam Ratulangi I/18 Kelapa Lima, Kupang-NTT Telp.: 0380-827272, Fax. 0380-829051

D é d é   O e t o m o
Lahir di Pasuruan, 6 Desember 1953. Staf Pengajar Universitas Airlangga, Surabaya. Salah satu pendiri dan aktivis Lambda Indonesia (1982), organisasi gay pertama di Indonesia, pendiri dan Ketua KKLGN (Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara), serta merintis publikasi Majalah GAYa NUSANTARA. Dengan membentuk kelompok tersebut, diharapkan para gay dan lesbian bisa tertumbuhkan rasa percaya dirinya dan penerimaan diri apa adanya. Selain itu juga, keberadaan komunitas dan publikasi merupakan upaya penyadaran masyarakat luas akan keberadaan ditengah mereka.
Staf pengajar di FISIP Universitas Airlangga ini menyelesaikan studi doktornya dalam bidang linguistik di Cornell University. Aktif dalam berbagai program untuk penumbuhan sikap saling-pengertian masyarakat terhadap kelompok lesbian-gay. Mendapat anugerah Felipe de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commision (IGLHRC), pada tahun 1998.
:: Gaya Nusantara Jl. Mulyasari Timur No.46, Surabaya-JAWA TIMUR-60112 Tel: 031-5934924, Fax: 031-5993569 e-mail: gayanusa@ilga.org

H y r o n i m u s   A.   F e r n a n d e z
Kesehatan Masyarakat Desa.
Hyronimus lahir di Larantuka, 19 Januari 1958. Lulusan tahun 1985 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, pernah terpilih sebagai Dokter Puskesmas Teladan Tingkat Kabupaten di Nusa Tenggara Timur tahun 1989, saat tanggung-jawabnya sebagai Kepala Puskesmas Hadakewa dan sebagai Pembantu Kepala Dinas Kesehatan di Pulau Lembata. Visi yang menjadi acuan kerja Hyronimus di bidang kesehatan adalah 'membangun kesehatan dengan kekuatan masyarakat'.
Hyronimus telah mengembangkan 164 kelompok kesehatan masyarakat, atau 'cluster' dibawah naungan Yayasan Bina Sejahtera (didirikan tahun 1987), yang membantu masyarakat desa mengelola perawatan kesehatan mereka sendiri. Para anggota kelompok, yang sebagian besar wanita muda, yang memperoleh pelatihan dasar dalam perawatan kesehatan, baik yang sifatnya promotif, preventif maupun kuratif dalam masalah kesehatan primer dan mengutamakan sumber daya lokal. Di desanya para kader mampu menangani masalah kesehatan utama di masyarakatnya, sebagian mendistribusikan obat-obatan esensial sederhana untuk penyakit endemik utama (Malaria, ISPA, malnutrisi). Di masing-masing desa para kader merancang dan mendirikan papan informasi untuk menggalakkan upaya-upaya kesehatan yang relevan. Pendekatan desentralisasi ini melahirkan program pelatihan serupa di tingkat desa dalam bidang kesehatan lainnya seperti kebersihan, air bersih, jamban pertanian berkelanjutan dan peternakan. Taraf kesehatan masyarakat pada umumnya meningkat perlahan, namun satu hal pasti: tingkat kesadaran akan kesehatan sebagai masalah mereka dan ketergantungannya kepada institusi kesehatan modern berkurang.
Proses penyadaran kelompok melalui tokoh informal, menjadikan masyarakat memahami masalah kesehatannya sendiri dan sumber daya yang dimilikinya untuk mengatasi. Ide pokoknya adalah pemberdayaan. Kini ide ini telah meluas ke pulau-pulau sekitarnya dan tetap dibawah naungan Yayasan Bina Sejahtera dan lembaga-lembaga derivatifnya yang didirikan bersama teman-teman seperjuangannya dan para kader terlatih. Dalam kunjungan singkatnya melintas Lembata (Julli 1999), papan informasi yang didirikan masyarakat masih terpelihara dan tanaman bluntas yang diintrodusir bersama para kader dan tokoh masyarakat pada awal kegiatan sebagai pagar hidup makin menghijaukan Lembata yang dulu gersang. Masyarakat telah menjadi aktif dalam mengatasi masalah kesehatannya. Kini masyarakat Lembata semakin mantap menatap masa depannya sendiri dan berharap-cemas pada RUU yang akan menjadikannya kabupaten pulau yang otonom!
Hyronimus kini sedang melanjutkan studi S3 di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Masyarakat. Tiga tahun tugasnya sebagai Direktur di rumah sakit kabupaten memberi warna lain pada minatnya dalam kesehatan masyarakat: bagaimana meng-create kultur organisasi pelayanan kesehatan, yang dapat memberikan produk-jasa perawatan kesehatan yang berkualitas, dari sudut pandang masyarakat lokal! Apakah mungkin mempertemukannya dengan konsep mutu menurut sudut pandang 'provider'? Itulah yang kini sedang dicarikan jawabannya dalam studi yang ditekuninya saat ini. Ia ingin segera kembali ke 'sekolah bersama masyarakat' di Nusa Tenggara Timur setelah menyelesaikan studi formal nanti.

S r i   W a h y a n i n g s i h
Pendidikan Masyarakat Pedesaan: "Pendidikan dari rakyat untuk rakyat"
Lahir di Klaten, 19 Desember 1961. Wahya, lulusan Akademi Keuangan & Perbankan memulai pengalaman di dunia LSM sebagai tenaga organisator lapangan di LPM UKDW Yogyakarta, dengan pendampingan kelompok tunawisma sebagai salah satu program lapangannya.
Di Indonesia, sistem pendidikan rancangan pemerintah yang terpusat di kota telah mengasingkan para siswa yang tinggal di daerah pedesaan. Kurikulum yang diterapkan yang sering tidak dapat diperoleh di daerah pedesaan, semakin mempertinggi nilai masyarakat dan kehidupan urban dimata mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Hal ini menyebabkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh jatuh.
Wahya melihat fenomena semacam ini di desanya, desa Lawen, Banjarnegara, di Jawa Tengah. Ia kemudian memperkenalkan suatu metoda pendidikan yang sangat berbeda dan bersifat partisipatif dengan menggabungkan ilmu membaca dengan pertistiwa-peristiwa terkini, keahlian, ilmu pengetahuan, dan seni. Tahun 1988 Wahya ikut mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) dengan basis kegiatan di desa Lawen, Banjarnegara. SALAM adalah salah satu media Wahya dalam mengimplementasi konsep 'desa' dan 'alam semesta' sebagai media belajar sekaligus sekolahan, dengan kelompok perempuan sebagai pelaku penting bagi pendidikan anak-anak.. Semua bahan pengajarannya berasal dari masalah-masalah dan situasi-situasi nyata ketika berhadapan dengan masyarakat; metode yang digunakannya dalam hal ini tidak hanya relevan melainkan juga menyenangkan. Para siswanya bekerjasama satu sama lain serta dengan para pengajar sukarela mereka. Proyek-proyek kelompok seperti pengembangbiakkan kelinci atau ternak mampu menciptakan penghasilan bagi para siswa sekolah tersebut dan meningkatkan rasa percaya diri mereka sehingga membuat mereka merasa betah dan dihargai oleh masyarakatnya dan memberi sumbangan pada peningkatan ekonomi desanya.
Saat ini Wahya, yang diangkat menjadi ketua RT 04 di kampung Lawen, mengembangkan Koperasi Karya Aji Nastiti yang bergerak di bidang simpan-pinjam. Dengan beranggotakan 60 orang yang 90% anggotanya adalah perempuan, Wahya mengembangkan pelatihan kompos organik yang bekerjasama dengan Yayasan Dian Desa (Yogyakarta). Dengan program ini diharapkan adanya peningkatan kualitas kebersihan lingkungan dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat desa.

S e t i a   A d i   P u r w a n t a
Kemandirian bagi Difabel
Setia telah secara konsisten aktif di berbagai program untuk perluasan akses sosial bagi kelompok tuna netra, seperti merintis Taman Flora Braille yang bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada, mendirikan dan mengelola perpustakaan kaset Braille, dan mendirikan sentra kerajinan kelompok tuna netra. Dengan mengembangkan program pelatihan kerja di sekolah luar biasa penderita cacat Yogyakarta, Setia — yang kehilangan penglihatannya karena kecelakaan — menciptakan kesempatan kerja yang bersaing untuk para penderita tuna nertra, tuna rungu, cacat fisik, dan cacat mental, yang jika bukanmelaui program ini tidak akan mempunyai kesempatan sama sekali. Organisasinya, DRIA MANUNGGAL, membantu para siswanya memperoleh kepercayaan diri dan pengalaman kerja di lapangan kerja seperti pembiakkan siput dan ikan, penanaman anggrek, pembuatan kerajinan tangan, dan penataan rambut. Setia juga berjuang untuk menghapuskan pendapat umum yang negatif yang menyebar luas tentang para penderita cacat baik melalui pekerjaan ini maupun melalui penyokongan langsung untuk hak-hak para penderita cacat. Ia menggunakan media cetak, memasuki kelompok-kelompok pendidikan, dan mengadakan seminar nasional dan regional untuk menjelaskan idenya dan mempublikasikan programnya. Setia berhasil menyelesaikan S-2 nya di IKIP Yogyakarta dan saat ini terlibat dalam perumusan RUU Penyandang Cacat, aspek hukum standard accessibility yang akan membuat standar tertentu untuk menyediakan sarana bagi para penderita cacat, contohnya, pembangunan pegangan tangan dan lerengan di semua tempat umum.
:: Dria Manunggal Perumahan SGPLB Blok E-5 Jl. Wates Km. 3 Yogyakarta-55182 Telp./.Fax. 0274-375115 e-mail: dria@yogya.wasantara.net.id

 
ASHOKA REGIONAL WEB SITES:

Ashoka International   Brazil   Canada   Czech and Slovak Republics   France
Germany  Hungary    Indonesia   Latin America   Middle East/North Africa
Nigeria   Poland   Southern Africa   Spain   Turkey   United States

©COPYRIGHT 2006 ASHOKA   •   Legal & Privacy Policy